Lombok Part 2: Bergosong Ria di Gili Trawangan


episode sebelumnya:

Hujan dan badai menerjang saat tim menuju puncak. Berhasilkah mereka menaklukkan puncak? Bagaimana perjalanan menuju danau segara anak melalui tebing-tebing terjal dipinggir jurang? Dan bagaimana pula perjalanan turun melalui jalur senaru yang kondisinya sangat berbeda dengan jalur sembalun? Akankah nikita willy menerima cinta tengku wisnu? #eh

Kisah lengkapnya bisa dilihat disini

***

17 mei 2012

sunrise dari penginapan

Pagi menyapa. Burung-burung bernyanyi riang. Mentari menghangatkan dengan semburat jingganya. Akbar berteriak mengingatkan David yang kelamaan di kamar mandi “woi buruan vid!” (kalo gak percaya boleh di cek di video mentah yang masih ada suaranya :P)

Pagi ini, sesuai agenda, kami akan menuju salah satu gili di lombok yaitu gili trawangan. Gili sendiri artinya pulau atau nusa (ini hasil gugling). Sebenarnya waktu mampir makan siang di salah satu rumah makan di lombok, saya pernah menanyakan ke ibu warungnya:

“ibu asli lombok ya”

“iya..”

“gili artinya apa bu?”

“iya..”

“pulau ya?”

“iya..”

” atau pantai?”

“iya..”

#gondok

Si ibu jawabnya iya-iya doang. Sepertinya beliau kurang paham bahasa indonesia.

Dari penginapan ke gili trawangan, kami kembali mencarter mobil L300. Harganya.. berapa ya? 500rb kalo gak salah (yang ngurus habibie). Mobil datang menjemput pukul 07.30, sesuai janji. Kami? masih packing.. susah ngilangin kebiasaan ngaret. Sekitar 10 menit kemudian, kami cek out dari penginapan, menuju gili trawangan.

Dalam perjalanan, kami balik dulu ke pos lapor senaru buat beli suvenir. Target utama tentu saja kaos sehingga kaosnya nyaris sold out. Harganya cukup mahal, 80rb per kaos. Saya ambil 2 kaos. Selain itu juga ada gantungan kunci 10rb, emblem 10rb, dan stiker 5rb. Susah banget nawar sama masnya, harganya gak bisa kurang walaupun ngambil banyak. Kalo si masnya jualan di kaskus, dijamin kagak laku, wong yang nawar afgan dan rosa (yang kaskuser pasti ngerti :P)

di dalam pos lapor senaru

bagian dalam pos lapor senaru, terdapat sebuah patung ukiran suku asmat yang ditaroh di sudut ruangan

Mobil melaju menuju pelabuhan bangsal. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih dua jam. Pelabuhan bangsal adalah tempat naik perahu menuju 3 gili, gili trawangan, gili air, dan gili meno. Tarif perahu ke gili trawangan 10rb per orang, tiket bisa dibeli di loket yang ada di bangsal. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya perahu kami nongol juga. Dari bangsal ke gili trawangan ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit.

sedikit jalan kaki menuju bangsal, kendaraan gak mau masuk bangsal karna takut dipungli petugas, jadinya kita diturunin rada jauh

jalan kaki

menunggu kapal di depan loket bangsal

diatas perahu, eh yang baju biru cakep, kok waktu itu gak nyadar ya? hahaha

perahu sebelah bongkar muatan

perjalanan ke gili trawangan

melewati gili air

mereka yang sedikit lebih beruntung (baca: tajir)

pantai gili trawangan

menginjakkan kaki di gili trawangan

Perahu menambatkan ekornya di pasir gili trawangan (pilihan kata yang gak banget!). Saya langsung kaget melihat bulenya banyak banget, udah kayak bukan di endonesia aja. Maklum, saya belum pernah ke bali yang mungkin suasananya kurang lebih sama. Turun dari perahu, banyak yang menawarkan penginapan kepada kami.  Akhirnya kami memilih satu orang yang beruntung dan kami diantar ke penginapan yang ditawarkan. Jaraknya sekitar 100 m dari pantai. Harganya cukup murah, 100rb per kamar, boleh diisi berapa aja. Kami mengambil 3 kamar, 2 kamar buat cowok dan 1 kamar buat cewek. Febri mencak-mencak karna tidak kami ijinkan untuk kembali seruangan sama cewek-cewek (nah kalo yang ini didramatisir, hehe).

Pukul 12 siang. Kami beberes bawaan masing-masing: menjemur pakaian yang basah dan ada juga yang masukin ke londry. Setelah solat zuhur, kami langsung jalan. Tujuan pertama adalah tempat makan. Perut harus diisi dulu sebelum melanjutkan kegiatan. Muter-muter, akhirnya kami menemukan tempat makan yang “terlihat merakyat”. Namanya warung Bu ‘De. Menunya khas endonesia, ada orek, ayam goreng, mie, pokoknya kayak di warteg lah. Siip, kami memutuskan untuk makan siang disini. Ternyata warungnya Bu ‘De ini rame juga, dan isinya ya orang-orang lokal dengan muka dekil dan kantong tipis seperti kami (teman-teman say: lu aja kali, gue enggak). Harga makanan di warung ini agak mahal juga, sekitar 20rb an per porsi.

Perut kenyang, semangat kembali naik. Kayak ada splash gitu dari dalam (iklan mijon-red). Kami melanjutkan perjalanan. Kemana? Nah itu dia, tujuannya belum jelas. Sebenarnya kami pengen snorkling, tapi karna sudah jam 1 siang, menurut informasi yang kami tau, paket snorkling udah gak ada karna biasanya paket snorkling jalan jam 10 an. Jadi kami hanya ingin keliling pulau trus menunggu sunset di arah barat. Dalam perjalanan, habibie menemukan seorang heroo lagi yang menjadi tambatan hatinya (heroo sebelumnya disini). Yang jadi masalah, sang heronya habibie itu cowok semua! Sepertinya habibi perlu konseling nih ke dokter boyke.

Sang hero menawarkan paket snorkling. Harganya 800rb satu kapal, udah lengkap sama snorkle, fin, dan pelampung, ke tiga spot snorkling di sekitaran gili. langsung deh tawaran tersebut kita rembugkan dan oke, kita deal. awalnya kita ada 7 orang, tapi david gak jadi ikut, katanya udah pernah nyoba.

berangkat snorkling

yang tengah gaya bener dah

Pukul setengah 2 kita berangkat. Spot pertama sekitar 20 menit dari gili trawangan, dekat gili air. Kita nyebur bentar, trus lanjut lagi ke spot kedua, gak jauh dari spot pertama. Kata yang bawa kapal, disini banyak kura-kura. Dan benar saja, saya langsung melihat seekor kura-kura. Saya nyebur dan mengejar kura-kura tersebut. Sepertinya kura-kuranya cacat, kaki depan sebelah kirinya gak ada, mungkin karna tersangkut jaring nelayan atau karna pertarungan dengan makluk laut lainnya, atau tawuran sesama kura-kura. Entahlah, hanya tuhan dan supir bajaj yang mengetahuinya…

Di spot ini, febri melakukan sebuah ritual unik buat ngeracun ikan. Febri menyelam sambil minum air boker sodara-sodara! Sebenarnya gak sambil menyelam juga sih, tapi sambil jongkok di pinggir yang agak jauh (lebay dikit, hehe). Dan konyolnya, dia sendiri yang melakukan pengakuan dosa sambil ngakak-ngakak di atas kapal. Semua jadi tau dah, harusnya lu diem aja feb. Sayang gak ada fotonya..

Snorkling di spot kedua juga tidak lama. Arus laut semakin kuat karena spot ini berada di perairan terbuka. Selanjutnya kami pindah ke spot ketiga, yang berada di sekitar gili meno. Nah dilokasi ini banyak yang snorkling. Arusnya tenang dan ikannya banyak. Kita udah menyiapkan roti tawar sebelumnya buat ngasih makan ikan. Rotinya ditaroh di tangan, ikannya gak ragu untuk matok, bahkan tangan saya juga ikut dipatok.

Penasaran sama ikan yang segitu ramenya, saya pengen nyoba mancing, siapa tau bisa dapat ikan yang ukurannya cukup besar, buat nambah2 makan malam. Bermodal kail dan sedikit benang yang ada di kapal, saya mencoba mengaitkan roti di ujung kail. Gak berhasil, rotinya kena air langsung luntur. Gak kehabisan ide, saya lalu mencoba menggunakan kantong plastik bekas roti dan menaroh roti di dalamnya. Eh ikannya udah pinter, kagak ada yang masuk. Ganti strategi, saya dibantu akbar mencoba usaha lain. Akbar yang kasih roti, saya menyerok dari bawah. Akhirnya dapat satu, ikan kuning belang hitam yang lagi sial. Setelah difoto, ikannya langsung dirilis. Tidak lupa kami berteriak “MANCING SEROK MANIA, MANTAAP!”

Cara lain buat menarik perhatian ikan tapi roti gak cepat habis adalah dengan memasukkan roti ke dalam botol air mineral, dan tutupnya dikasih lobang. Roti dikeluarkan sedikit-sedikit dari lobang tersebut dengan cara ditekan dan dan ikan akan berkumpul untuk makan.

ikan hasil serokan kantong kresek

akbar

knapa lu feb?

franz emang oke

gantian make botolnya..

febri, lelaki sukses yang sedang mencari pendamping hidup, idaman mertua, hp 08521524xxxx

ini nih yang doyan roti

orang ganteng

Kami snorkling di spot ini cukup lama, sampai kira kira jam 4 sore. Sebenarnya sih belum puas, tapi karna udah sore, kita harus segera balik ke darat. Kami teringat pesan bang haji rhoma, jangan jadi orang yang lupa daratan.

Solat dan beberes menjadi agenda kami selanjutnya sesampainya di penginapan. Menjelang sunset, saya mengajak teman2 untuk melihat sunset, tapi hanya habibi yang ikut. Yang lain sepertinya masih capek. Kami berjalan ke arah barat pulau. Ternyata gili trawangan ini cukup luas. Baru sampai pertengahan pulau, azan magrib memanggil. Kami mengurungkan niat untuk menikmati sunset. Lagian dari kejauhan terlihat sunsetnya kurang berwarna.

Ada hal menarik yang saya perhatikan di gili trawangan ini. Kawasan tengah pulau terlihat kumuh dan penduduknya sepertinya berada dibawah garis kemiskinan. Namun suasana di kawasan ini terlihat islami, banyak jamaah ke masjid dikala azan berkumandang (di wilayah ini ada minimal sebuah masjid yang saya temukan). Hal ini sangat kontras dengan keadaan di sekitar pantai, kondisinya lebih maju dan pola hidup warganya udah kayak bule. Analisis saya: pertama, hal ini terjadi karna kegiatan wisata terkonsentrasi di daerah pantai, jadi wilayah tengah pulau tidak berkembang. Atau kedua, masyarakat di wilayah tengah pulau menolak infiltrasi kebudayaan yang dibawa oleh bule, yang umumnya bertentangan dengan syariat islam, sehingga dampak pariwisata tidak berimbas ke wilayah mereka. Wallahualam, hanya tuhan dan supir bajaj yang tau..

Selepas magrib, bisa ditebak agenda selanjutnya. Ya, its time to dinner! Kami menuju pantai mencari tempat makan. Ternyata di dekat pelabuhan, ada sebuah lapangan yang kalo malam berubah menjadi seperti pasar malam gitu. Banyak pilihan makanan tersedia, tentu saja didominasi oleh seafood. Kami mencari tempat kosong yang bisa diisi 7 orang. Kalo saya, jepret sana sini dan ngambil video. Sayang banget kalo gak didokumentasikan.

Makanan dipesan, 3 ekor ikan ukuran sedang dipilih untuk dibakar,  tak lupa sama nasi, sambel, dan lalapan untuk tiap orang. Ternyata nunggunya luuama banget, lebih dari 30 menit. Kami mengisi waktu dengan ngobrol gak karu-karuan, biar lapar yang sudah menggerogoti perut bisa sedikit diredam. Di sebelah kami kebetulan ada seorang bule dari sidney, dia nekad ke lombok seorang diri. Saya jadi sedikit belajar bahasa inggris dari percakapannya.

3 jam kemudian.. -> bohong

Makanan datang, kami yang tadinya heboh langsung diam. 3 ekor ikan bakar langsung compang camping dicomot mulut-mulut lapar (nyomotnya pake tangan tentunya). Sedap benar, ikan bakar yang masih segar. Oiya, febri gak ikutan makan ikan karna dia gak doyan ikan. Kalo ikan ayam, baru febri doyan. Jadinya dia pesan soto ayam di warung sebelah dan makan bareng kami.

bule everywhere

akbar lapar berat, alon-alon bar..

Selesai makan, kami ngaso di pelabuhan. Di tempat yang agak gelap, ternyata banyak pasangan mesum yang lagi mojok. Yaudah, kami ikutan mojok, eh bukan, kami duduk di beton tidak jauh dari pantai, sambil menikmati taburan bintang yang terlihat bersih. Saya, akbar, dan febri lalu menelusuri garis pantai ke arah kiri, dimana banyak terdapat cafe, resto, dan toko suvenir. Pengunjungnya bule semua. Ada juga wajah-wajah asia timur yang terlihat.

Agenda malam ini diakhiri pukul setengah 12. Saatnya tidur.

18 Mei 2012

Sunrise terlihat cukup menarik dari pelabuhan. Diujung sana tergambar siluet gunung rinjani.

Damai..

Apalagi di video diiringi lagu 1000 years dari five for fighting (promosi video bikinan ane dikit, hehe). Kurang lebih 2 jam kami habiskan waktu di pelabuhan untuk menikmati sunrise. Pukul 10 pagi, kami diantar kapal kembali ke pulau lombok, menuju mataram.

sunrise di gili trawangan

sunrise di gili trawangan

sunrise di pelabuhan gili trawangan

menikmati sunrise di pelabuhan gili trawangan

astagfirullah bi

foto perpisahan dengan gili trawangan

Dari pelabuhan bangsal, kami menyewa sebuah mobil menuju mataram. Awalnya ditawarkan L300, ternyata mobilnya gak ada, trus mau diganti APV, gak ada juga, ujung-ujungnya kita dikasih angkot (yang dalam bahasa orang sana disebut bemo). Yaudahlah, yang penting sampe ke mataram. Sewa bemo 130rebu untuk 2 jam perjalanan.

Di mataram kami “ditampung” (hehe, bahasanya..) oleh ainal, temannya habibi. Selesai jumatan, kami muter-muter kota mataram nyari oleh-oleh. Pertama ke toko makanan, lanjut ke toko kaos. Trus ke tempat makan, menikmati ayam taliwang yang terkenal. Ternyata gak ada bedanya, masih rasa ayam..

Oiya, febri gak ikut makan. Dia udah ke bandara duluan. Pesawatnya jam 3 sore, tujuan denpasar. Febri melanjutkan liburannya bareng keluarga di bali. Beda lagi sama akbar, pesawatnya jam 7 malam, tujuan surabaya. Yang lainnya pesawat jam 6 sore tujuan jakarta.

Selesai makan, kami langsung ke bandara naik 2 taksi. Eh di jalan menuju bandara terjadi kemacetan parah. Ternyata macet juga sudah menjadi gaya hidup di kota-kota diluar jawa. Pak supir langsung putar arah dan nyari jalan alternatif. Cukup jauh. Akhirnya kami sampai bandara disambut panggilan boarding dari pengeras suara. Nyaris saja..

di bandara internasional lombok

hati riang muka gosong

Pesawat take off jam 7, telat, sepertinya karna nunggu penumpang lain yang mungkin juga terjebak kemacetan tadi. Kami meninggalkan rinjani, segara anak, gili, lombok.. namun kenangannya tetap tertanam dalam ingatan (dan memori kamera) :D

Thanks to all friends: habibie, febri, siti, david, akbar, dan rani

Ditunggu petualangan berikutnya :D

Tentang franzkurnia

senang mencoba hal-hal baru, sedang berusaha mengendalikan sifat malas dalam diri
Tulisan ini dipublikasikan di pantai dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Lombok Part 2: Bergosong Ria di Gili Trawangan

  1. Habiby berkata:

    “habibie menemukan seorang heroo lagi yang menjadi tambatan hatinya (heroo sebelumnya disini). Yang jadi masalah, sang heronya habibie itu cowok semua! Sepertinya habibi perlu konseling nih ke dokter boyke.”

    ada 2 pertanyaan:
    1. knp jadi ane yg dibuli??
    2. sejak kpn si boyke buka konseling?? dia kan dokter utk org2 yang tak mampu “berdiri” :p

  2. Wennie berkata:

    Mantap..
    Saya juga liburan dari Bali lanjut ke Gili Trawangan. Tadinya bingung cara nyampe Gili dari Bali. Ternyata ada transport fast boat langsung dari Bali ke tiga Gili (Gili Trawangan / Gili Meno / Gili Air) bahkan juga ke Lombok. Saya order online di http://www.GiliTransfers.com, pake nego2 biar dikasih harga turis lokal. Boatnya bagus n mangstap, ngebut kaya F1 n bisa duduk2 di dek atas bareng bule2 (hampir semua penumpangnya bule).
    Abis dari Gili naik public boat ke Lombok. Murah banget cuma 10 ribu rupiah per orang (tapi memang cuma 20 menitan sih). Pulang naik direct flight dari Lombok ke Jkt.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s